Sabtu, 08 Oktober 2011

SEBUAH PLEDOI TENTANG CINTA



Ketika Mario Teguh berkata : " cinta akan merubah segalanya ", aku sangat setuju, namun ketika dia membenarkan bahwa "cinta seriring dengan benci", aku sangat tidak setuju.

Cinta & benci memang seolah seiring & selibat, namun ini juga tidak sepenuhnya bisa diberikan klaim demikian. Analogi memandang cinta & benci mirip seperti kita memandang berkorban & jadi korban.
Cinta dilandasi oleh seluruh niat dimana apapun yang terjadi tetap cintalah yang ada & ini sama saja dengan berkorban, tiada keluh kesah disana, tiada rasa kecewa disana, tiada gundah gulana disana & tiada merasa dirugikan dalam cinta.

Bahwa benci akan meghasilkan dendam adalah betul, namun esensinya bukanlah terlibat dengan dendam itu sendiri, bahwa yang menggerakkan dunia dualitas ini adalah DENDAM & CINTA,"SEDALAM DENDAM & SEDAHSYAT CINTA" merupakan perwujudan sebuah "AGREGASI TEKAD" dimana sebuah kondisi dapat  dirubah karena kita sudah tidak terlibat dalam permainan rasa dendam serta cinta itu sendiri.

Hidup ini kita tidak akan pernah tahu akan kemana & sampai dimana, apakah ini ilusi atukah sebuah realita, saiap yang bisa memastikannya ? Saat ini kita haya bermaian - main dengan rasa dimana itu juga bertaut dengan harapan - harapan yang ada. 

Seorang berkata "AKU BERANI", karena dia sedang berpijak pada sebuah ketakutan, dia memberikan sebuah sensasi sugesti pada dirinya sendiri, namun sesungguhnya dia yang "MEMPUNYAI NYALI" adalah dia yang tidak pernah memberikan label berani atau takut ... dia hanya berjalan, berlari & terus melalui seluruh perjalanannya untuk "MENCARI MAKNA SERTA ARTI & TERUS TERLIBAT DENGAN SEGALA KETIDAK TAHUANNYA".

Seorang petarung akan terus berlatih terus & kembali bertarung & berlatih terus ... hingga dia menilik ke dalam dirinya dengan sebuah kebijaksanaan terdalam ketika dia siap untuk menutup mata serta mengakhiri nafasnya dengan sebuah senyum & gumaman  ...... "AKU SAMPAI DISINI" .

Hanya 1 (satu) hal dalam hidup ini yang harus kamu lakukan :

" PREPARE FOR THE WORST IS TO PREPARE FOR GLORY &  FIGHT UNTILL THE JOURNEY END ".

-WAG - 

----------------------------------------

Sebuah catatan kecil dari seorang MAESTRO SENI HIDUP :

"Seberat beban seberat itu juga kehormatan dan pengharapan ditempatkan, menjadi diri sendiri menapaki hari demi hari dimana tiap langkah memberi arti dan menggaris bawahi sejarah yg terbawa kekinian". 

"Entah karena cinta, dendam, kebencian ataupun ketakutan dan ketidak tahuan,  kuteruskan langkah ini untuk tahu akhir dan artinya".

"Seringkali memang kita tidak tahu siapa dan bagaimana kita, sampai suatu hari kita tahu ternyata kita tidak seperti yg kita sangka dan bayangkan selama ini".

- HD -  




Sabtu, 01 Oktober 2011

REALITA ILUSI



HARGA DIRI & KEHORMATAN, dua buah kata yang saling mengisi & melengkapi serta bergantung  satu sama lain. Sudah banyak orang akan berkata tentang ke dua hal ini dalam banyak terminologi, namun ketika kita dihadapkan pada sebuah persoalan yang pelik dengan kompleksitas yang cukup tinggi terkadang harga diri & kehormatan hanya akan menjadi sebuah wacana.


Sebuah hal yang sangat dilematik & problematik ditempatkan oleh harga diri & kehormatan ini, terkadang kita tetap akan mencari ke dua hal ini, namun terkadang  ke dua hal ini menjadi tidak penting ketika kita menilik kedalam sebuah kebijaksanaan terdalam.

Apa "sesungguhnya" & apa "sesuatunya" pada HARGA DIRI & KEHORMATAN ini ?

Harga diri hadir pada sebuah aturan main tentang apa yang kita lakukan, yang kita perbuat, sikap, tindakan, kebiasaan, cara berbicara, paradigma dan sebagainya. Harga diri muncul sebagi output dariagregasi  diri kita, dia adalah sebuah identitas yang akan dikenal oleh sistem sosial diluar diri kita.
Ada sebuah nilai - nilai yang muncul sebagi identitas diri, dengan kata lain  HARGA DIRI merupakan"NILAI - NILAI YANG MUNCUL SEBAGAI  IDENTITAS DIRI". 
 Penilaian akan datang dari sendiri ketika kita telah melalui sebuah ketidak tahuan & batasan diri, pun penilaian akan datang dari masyarakat kepada apa yang muncul dari diri kita sehari - hari. 

Nilai - nilai yang muncul sebagai identitas diri ini sangat mencerminkan tentang "KAPASITAS serta  KETETAPAN DIRI" & hal ini merupakan sebuah paramter pun indikator sebuah "KEHORMATAN"yang sarat dengan ATURAN MAIN yang sangat kompleks.

"tak ada gading yang tak retak serta macan mati meninggalkan belang", merupakan sebuah perumpamaan sederhana & tepat  untuk memaknai harga diri serta kehormatan ini, karena seorang pecundang atau pengkhianat akan mati sebagai dirinya & bukan mati sebagai seorang ksatria.

Dilematika & problematika yang muncul adalah ... "apakah harga diri serta kehormatan  ini diperlukan atau tidak ?"

Setiap bentuk pasti mempunyai tujuan, harga diri maupun kehormatan juga tergantung dari orientasi kita, diperlukan atau tidak merupakan sesuatu yang absurd untuk dipaparkan, karena semuanya merupakan sebuah aturan main yang terhampar di depan mata.
Seorang ksatria mempunyai aturan main yang berbeda dengan seorang pecundang, disana terdapatpatern line serta koridor dimana seseorang dikatakan sebagai ksatria ataukah pecundang & itu bergantung kepada nilai - nilai serta kapasitas & ketetapan yang kita wujudkan sebagai agregasi diri.

" MEREKA  MENGENAL KITA BUKAN KARENA KITA ADALAH PECANDU & MENJADI ORANG  LAIN, NAMUN MEREKA MENGENAL KITA KARENA INILAH DIRI KITA ". 


Senin, 07 Februari 2011

DWI TUNGGAL FALSAFAH BANGSA

PANCASILA & BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA adalah dwitunggal ajaran bangsa dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia.

Beberapa dasar yang melatar belakangi terbentuknya DWI TUNGGAL AJARAN BANGSA  
  1. Kondisi alam --- > proses --- > perilaku --- > nilai – nilai / ajaran
  2. Sejarah --- > budaya --- > momentum 
  3. Orientasi --- > berdikari --- > anti kolonialis, kapitalis, fasis & imperialis
Ke-3 hal tersebut merupakan beberapa komponen terbentuknya PANCASILA & BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA.

Pancasila, tentunya sudah banyak para pemikir disini yang sangat paham mengenai cara pandang & ajaran bangsa ini. Namun tidaklah salah juga ketika kita melihat pancasila dari sisi dwi tunggal ajaran bangsa seperti yang tertera dalam sub tema diatas.

Ada beberapa hal yang bisa menjadikan kita wawasan dalam memaknainya, yaitu :

  1. penyebutan semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRWA yang berasal dari seluruh ajaran nusantara ini harus utuh & jangan dipenggal.
  2. Pemahaman PANCASILA juga harus utuh, lupakan butir2 pancasila yang sudah kita terima & 
    kembali lihat serta pahami nilai-nilai yang terdapat dalam proses kehidupan kita sehari – 
    hari.

  3. Kita mempunyai hak yang sama sebagai makhluk hidup, dalam hal ini kita disebut sebagai manusia.
  4. Yang membedakan adalah kondisi alam beserta proses yang terjadi demi   kelangsungan  hidup, bukan sebuah suku atau agama atau kepercayaan BAHKAN TUHANNYA.
  5. Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ini adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan ajaran bangsa yang lain yang termaktub dalam PANCASILA, sehingga keduanya adalah dwi tunggal ajaran bangsa indonesia.
    Di sinilah makna sesungguhnya dari DWI TUNGGAL AJARAN BANGSA, bahwa didalam segala perbedaannya tetap ada sebuah kebenaran yang hakiki, yaitu hak & kewajiban kita sebagai sesama makhluk hidup untuk saling menghargai, menghormati, dll. 
Sebagai ilustrasi tentang kebenaran ini adalah, ketika kita memandang seekor burung yang sedang terbang tinggi di udara, kita tidak pernah bisa melihat kakinya, namun kita tahu bahwa itu ada.

Dwi tunggal ajaran bangsa ini menegaskan bahwa :

  1. Anti sekat, anti penjajahan & anti penindasan
  2. Segenap manusia diciptakan sama dengan beberapa hak asasi yang tak boleh diganggu gugat
    , diantaranya adalah Hak untuk Hidup, Hak untuk Bebas, dan Hak untuk m
    engejar kebahagiaan.
  3. Untuk menjamin semua hak itu, pemerintahan yang dibentuk memperoleh kekuasaan yang sah atas persetujuan pihak yang diperintah dan jika bentuk pemerintah menjadi penghalang bagi hak-hak tadi, maka adalah hak rakyat  untuk mengubah atau menghapuskan pemerintahan itu, dan membentuk pemerintahan baru.
  4. Orientasi ajaran & bangsa Indonesia adalah BERDIKARI


JALALUDDIN AR-RUMI & PEMBERONTAKKANNYA TERHADAP DOKTRINASI


SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!
Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. 
Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. 
Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. 
Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. 
Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.


EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH
Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, "Aku akan membeli anggur."
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, "Tidak, karena aku ingin inab."
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, "Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum."
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, "Aku ingin stafil."
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, "Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu."
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.


DIMENSI LAIN
Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus --
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.


KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. 
Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. 
Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. 
Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. 
Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.


DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.

SEMANGAT BERDIKARI oleh SASTRO SURIP

Bp SURIP lahir 1916. Nama SURIP kemudian menginspirasi nama bisnisnya menjadi PIRUS dengan cara membacanya terbalik dari kiri ke kanan. Kehidupan Surip muda penuh tantangan. Ibunya bekerja pada sebuah keluarga Belanda sebagai pembantu dan Bapaknya bekerja sebagai pengangkut barang di Stasiun Tugu Yogyakarta. Dia terpaksa keluar sekola pada kelas 3 karena harus bekerja karena merasa bertanggungjawab untuk membantu orang tuanya dan adiknya.  Surip muda mulai bekerja untuk mengerjakan berbagai pekerjaan sampai dia menyadari bakatnya dibidang seni lukis dan pekerjaan tangan. Maka, dia mulai beralih menekuni seni lukis natural. Profesi ini dijalani hingga Jepang menguasai Jogjakarta pada tahun 1942.  Dia memasarkan lukisannya kepada keluarga-keluarga Belanda yang tinggal di Jogjakarta, Magelang, Purworedjo dans sekitarnya. Dia telah menjual lusinan karya lukis natural seperti pemandangan, manusia, wayang. Surip muda juga memanfaatkan bakat yang lain yaitu kerajinan tangan untuk membuat kap lampu dari kulit lembu yang ditatah dengan lukisan wayang seperti Gunungan, Bimo, dan Arimbi. 

                Selama penjajahan Jepang, Surip muda bekerja di perusahaan listrik negara yang dikuasai oleh Jepang. Dia termasuk pekerja yang cepat belajar sehingga dia bisa dengan cepat menguasai lingkungan pekerjaannya denga mudah. Pada saat Jepang kesulitan untuk memperoleh fiting lampu, Surip muda memproduksi fiting lampu tersebut dengan teknologi pemrosesan yang sangat sederhana dengan mengunakan kayu jambu yang kemudian digodog dengan parafin. Dia mendapat penghargaan dari perusahaannya dan menjadi pemasok fiting lampu dengan dibantu oleh 10 karyawan dari sekitar Terban, Yogyakarta.

         Pada saat Belanda menyerang Jogjakarta atau dikenal dengan clash ke II 1949, Surip muda bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat yaitu cikal bakal TNI AD, untuk bergerilya di Yogyakarta dan sekitarnya. Dia melanjutkan pengabdiannya di militer dan terlibat dalam beberapa operasi hingga 1953 dimana dia harus memutuskan untuk kembali ke masyarakat atau melanjutkan karir di militer dengan pendidikan di Cimahi. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke masyarakat dan mendapat pensiun dengan pangkat Sersan dan mendapat penghargaan sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Surip muda kemudian melanjutkan karir sebagai wiraswasta dan memulai usahanya di Jl Kaliurang 26 Yogyakarta (sekarang C Simanjuntak).

                Bp Surip memulai usahanya pada tahun 1953 dengan memperbaiki kendaraan karena dia melihat bahwa banyak kendaraan yang ditinggalkan oleh Belanda dan sudah dipakai oleh orang Indonesia namun sedikit sekali usaha untuk perawqatan dan perbaikan sepeda motor di Yogyakarta. Usaha baru Bp Surip dinamakan PIRUS yang berasal dari namanya sendiri yaitu SURIP namun dibaca dari belakang menjadi PIRUS. Usahanya terus berkembang dan dia membutuhkan modal, sayang sekali dia tidak punya kapasitas sebagai jaminan untuk meminjam Bank. Kisah ini didengar oleh Mr Kasmat anggota DPR dari Partai Sosialis Indonesia yang tinggal di Jl Nyoman Oka Kota Baru Yogyakarta, depan Kridosono. Mr Kasmat kemudian membawa kisah Bp Surip dan memberi jaminan ke Bank rakyat Indoensia atau BRI pada saat itu. Berkat jasa Mr Kasmat, Bp Surip bisa mewujudkan impiannya untuk memperoleh sebuah mesin bubut My Ford buatan Amerika. Dengan mesin bubut tersebut Bp Surip membuat berbagai suku cadang sesuai dengan kebutuhan pelanggannya. Bisnisnya berkembang pesat didukung oleh anak-anak muda Mahasiswa UGM yang sering bermain ke bengkel kerjanya, seperti Suradi Prawiro.

                Pada tahun 1956, Bp Surip menciptakan sebuah sepeda motor 30cc yang diberi nama Swadeshi karena terinspirasi oleh perjuangan dan semangat Mahatma Gandhi dan kebijaksanaan Soekarno BERDIKARI kependekan dari BERdiri DIatas Kaki sendiRI. Sepeda motor 30cc ini adalah sepeda motor yang pertama kali dibuat di Indonesia. Sepeda motor yang dinamakan Swadeshi itu sudah beberapa kali mengikuti pameran seperti 200 tahun Jogjakarta Oktober 1956 dan Pameran hasil karya Veteran yang diprakarsai oleh Legiun Veteran Republik Indoensia di Jakarta pada tahun 1960 yang juga dihadiri oleh Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.

        Selama Trikora yaitu konfrontasi dengan Belanda untuk membebaskan Irian jaya melalui Operasi Mandala, PIRUS diberi kesempatan oleh Soekarno untuk ikut memperbaiki dan merawat pembangkit listrik ukuran kecil yang digunakan untuk menunjang operasi. Membuat berbagai suku cadang, termasuk memperbaiki dinamo adalah bagian dari kepercayaan itu. Selama era emas berkat kebijaksanaan BERDIKARI Soekarno, PIRUS memproduksi Piston dan berbagai suku cadang kendaraan  BEMO yang didatangkan dari Jepang 1962. Pangsa pasar nasional diraih dan PIRUS  terkenal bukan hanya di Jawa bahkan hingga di luar Jawa. Namun, kemunduran terjadi seiring dengan perubahan politik dalam negeri Indonesia selama kurun waktu 1965-1974.

                Didukung oleh putra dan putrinya di tahun 1978 PIRUS mulai berganti strategi. dari pelayanan terhadap segmentasi otomotif ke industri tekstil. PIRUS memulai untuk memperbaiki dan mereproduksi aneka suku cadang tekstil untu pasar Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan menggunakan kapasitas, yang tertsedia. Primissima, GKBI, dan Patal Secang adalah beberapa konsumen industri tekstil yang dilayani setelah perubahan strategi tersebut.

                Bp Surip meninggal dunia pada Januari tahun 1988 pada usia 87 tahun, Usaha PIRUS dilanjutkan oleh puitra-putri dan cucunya.